SENDAWAR – Kesunyian pada Sabtu (16/5) dini hari di Kampung Benung, Kecamatan Damai, Kutai Barat, pecah oleh benturan keras. Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.00 Wita ketika sebuah nyawa melayang di atas mulusnya semenisasi jalan kabupaten.
Insiden ini memperpanjang daftar hitam kecelakaan maut di Bumi Tanaa Purai Ngeriman. Dua faktor klasik, yakni infrastruktur buta dan kelalaian parkir kendaraan alat berat.
Korban seorang pengendara sepeda motor berinisial A, mengembuskan napas terakhirnya setelah menabrak "monster besi"—sebuah shaft loader yang tengah menggendong ekskavator—yang terparkir "memakan" badan jalan.
Informasi yang dihimpun di lapangan menggambarkan betapa mengerikannya detik-detik sebelum petaka terjadi. Korban A diketahui memacu sepeda motornya dari arah Kampung Barong menuju Kampung Benung. Secara geografis, jalur ini memang dikenal memiliki kontur yang menantang
Namun, bukan sekadar tantangan alam. Malapetaka subuh itu terjadi akibat akumulasi tiga faktor krusial di lokasi kejadian, Geometri jalan yang ekstrem, korban harus melewati jalan semenisasi yang menurun, menanjak, dan langsung disambut tikungan tajam ke kiri.
Lalu blind spot sempurna, di titik kritis setelah tikungan tersebut, terparkir satu unit shaft loader di sisi kanan jalan.Terkakhir gelap gulita, minimnya atau bahkan tidak adanya, penerangan jalan umum (PJU) membuat area tersebut menjadi jebakan batman bagi siapa saja yang melintas di paruh malam.
"Diduga kuat karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kondisi jalan yang gelap gulita, korban tidak sempat menghindar. Jarak yang sudah terlalu dekat membuat benturan fatal tak terelakkan," ujar Kasi Humas Polres Kubar, Iptu Sukoco, Minggu (17/5/2026).
