Menteri Keuangan menegaskan, langkah utama yang akan diperkuat adalah intervensi lebih besar di pasar Surat Berharga Negara melalui mekanisme Dana Stabilisasi Obligasi, agar investor asing tidak berbondong-bondong menarik dana dan pasokan valas tetap terjaga. Bersama Bank Indonesia, kebijakan moneter juga akan diperketat: intervensi valas di pasar dalam dan luar negeri ditingkatkan, pembelian dolar dibatasi maksimal US$25.000 per bulan, serta instrumen baru diluncurkan guna menarik aliran modal masuk kembali.
Dari sisi fiskal, pemerintah akan menyalurkan subsidi langsung untuk logistik dan distribusi bahan pokok, serta mengawasi ketat rantai pasok impor agar kenaikan biaya tidak sepenuhnya dibebankan ke harga eceran. APBN juga disiapkan sebagai penyangga utama, dengan fleksibilitas anggaran darurat jika tekanan berlanjut. Selain itu, transaksi perdagangan dengan negara mitra akan diperluas menggunakan mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS .
“Langkah ini dilakukan beriringan. Kami tidak hanya menstabilkan nilai tukar, tapi juga memastikan dampak ke masyarakat tetap terkendali. Fondasi ekonomi masih kuat, cadangan devisa aman, dan kami siap bertindak lebih cepat dan tegas jika tekanan makin besar,” ujar pejabat tinggi kementerian ekonomi.
Pasar kini menanti efektivitas langkah-langkah ini. Jika sinergi berjalan baik, Rupiah diproyeksikan berangsur pulih dalam 1–2 minggu ke depan, namun tetap bergantung pada pergerakan suku bunga Amerika Serikat dan harga komoditas dunia. Hingga berita diturunkan, mata uang nasional masih bergerak di zona merah, namun tanda-tanda stabilisasi mulai terlihat dari intervensi yang mulai berjalan.
